Sunday, February 15, 2009

Perempuan Bireuen

Klakson mobil menyentaknya. Sambil berusaha menghalau anak-anak kambing ke kiri dirapihkan sarung yang menudungi kepalanya. Senyum rikuh menyembul ketika kusapa ia.

Perempuan Bireuen, dengan berjuta gurat di wajahnya, menyiratkan berbagai peristiwa, pergulatan dengan kehidupan. Garis kelelahan tampak di wajah tuanya.
Ah, tidak. Dia mungkin tidak terlalu tua, mungkin seusia ibuku. Tapi hidup yang dilaluinya membuatnya tampak lebih tua dari umurnya. Entahlah.

Sepintas ia kisahkan hidupnya.
"Suami ibu kerja dimana?"
Sejenak ia tercenung.
"Ga ada."
"Suami ibu pergi?"
"Dia sudah meninggal," Sahutnya lirih dengan logat aceh yang kental sambil menatap ke bawah.
Aku tak berani bertanya lagi. Mungkin suaminya meninggal karena tsunami yang baru lalu, atau mungkin karena penyebab lain. Apa bedanya? Dia kini hanya sendiri, menghidupi ketiga anaknya dengan menggembala kambing.
Ia kembali tersenyum rikuh sambil meraphkan sarung lusuhnya yang tertiup angin pantai. Diceritakan anaknya yang mencoba ikut mencari nafkah dengan membantu nelayan lain meski tangannya sakit.

Ada trenyuh yang mengiris hati. Ah ibu, betapa keras hidupmu. Sekali lagi kuingat betapa beruntungnya diriku, tak pernah mengalami hidup yang keras seperti yang kau alami beserta anak-anakmu. Rasa berdosa dan malu membuatku tak mampu berkata-kata, tidak juga sekedar kata hiburan. Betapa aku dengan segala keberuntungan yang hadir dalam hidupku, segala anugerah yang kunikmati, masih saja membuatku mengeluh.

Senyum rikuh perempuan Bireuen itu menampar jiwaku. jiwa kerdil yang belum lagi pandai mensyukuri nikmat dari-Nya. Wahai jiwa belajarlah dari wanita itu, penderitaan takkan hilang dengan satu senyuman. Namun penderitaan tak perlu melulu berisi air mata, karena sebuah senyuman akan mengangkat gurat kesedihan, secercah harap untuk terus melangkah diantara riak kehidupan.

No comments:

Post a Comment